bunga melati

Menikmati Melati dari Aspek Lain

  • Oleh Febrie Hastiyanto

TEGAL telah dikenal luas sebagai kota teh. Di kota itu  terdapat banyak industri pengolahan teh. Sebut saja PT Gunung Slamat yang memproduksi merek Teh Sosro, Teh Poci, Teh Botol, Teh Berko, Teh Terompet, dan Teh Sepatu, PT Tunggul Naga yang memproduksi Teh Dua Tang dan Teh Tjatoet, serta PT Dua Burung yang memproduksi Teh Tong Tji.

Meskipun demikian Tegal tidak memiliki lahan perkebunan teh yang luas. Bahan baku daun teh umumnya diimpor dari Jawa Barat. Teh tegal dikenal karena rasa dan aromanya yang wangi, sepet, legi, dan kentel  (wasgitel) dalam tradisi minum teh yang disebut moci.

Karakteristik teh Tegal yang khas adalah teh melati (jasmine tea), di samping teh hijau dan teh hitam. Teh melati, sesuai namanya merupakan kombinasi antara daun teh (Camellia sinensis) dan kuncup bunga melati (Jasminum sambac).

Pantura Jateng merupakan sentra budidaya melati, terutama di daerah Tegal, Pemalang, Pekalongan, dan Batang hingga Purbalingga.

Kawasan pantura menjadi sentra budidaya melati (varietas melati putih/puspa bangsa) terutama karena karakteristik lahan yang cocok untuk berkembangnya bunga ini, yakni dataran rendah hingga menengah (0-700 meter di bawah permukaan laut/ dpl), dengan kelembaban udara 60-80% serta mendapat sinar matahari yang cukup sepanjang tahun.

Melati mulai berbunga setelah berumur 7-12 bulan. Setiap tahun melati dapat dipanen selama 12 minggu (3 bulan), dengan time series produksi antara 5 dan 10 tahun setiap batangnya. Kapasitas produksi melati di Indonesia antara 20 dan 25 kg/ ha/ hari selama tiga bulan masa panen.

Pada hari-hari biasa, di kawasan pantura Jateng (bagian barat), rata-rata setiap 1 ha dapat menghasilkan 120 cemong (wadah melati), atau setara dengan 20 kg.

Pada saat naru (panen raya) angka ini bisa melonjak hingga 10 kali lipat menjadi 200 kg. Di Kabupaten Tegal misalnya, lahan budidaya melati tak kurang dari 209 ha, sehingga kapasitas produksinya mencapai 4,1 ton pada hari biasa, atau 41 ton pada saat panen raya.

Petani umumnya menjual hasil budidaya melati kepada pengepul. Setidaknya ada satu pengepul lokal dan tiga pengepul regional di Bandung dan Sukabumi.

Pengepul kemudian menjual melati kepada perusahaan teh atau langsung diekspor ke Singapura. Harga teh sebenarnya ditetapkan Organisasi Perusahaan Sejenis (OPS) atau semacam asosiasi organisasi perusahaan teh. Mereka biasanya mengadakan rapat di Pekalongan.

Meski demikian, harga jual petani umumnya di bawah harga OPS karena mereka menjual kepada pengepul. Saat ini petani hampir tidak memiliki pilihan selain menjual kepada pengepul karena produksi individual petani umumnya dalam skala kecil dan tidak tetap produksinya, kemudian kualitas melati dari petani umumnya masih perlu dilakukan penyortiran (Aksan, 2009).
Kelebihan Produksi Selain itu, pengepul seringkali tidak bersedia membeli petani saat panen raya karena kelebihan produksi yang menyebabkan harga jatuh, selain itu melati bukanlah komoditas yang dapat disimpan lama dalam keadaan segar.

Untuk memberdayakan petani di Tegal misalnya telah terbentuk Kelompok Petani Melati (KPM) Agung Mulia. Agung Mulia dapat menjadi fasilitator petani dengan pihak eksternal (distributor, pembeli akhir, pemerintah daerah hingga lembaga keuangan dan kelompok peduli lain).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.